Hmmmm….. mau menulis tentang apa ya? Secara de facto post ini mungkin bukanlah yang post pertama. Namun secara de jure, nampaknya ini memang benar benar post saya yang pertama.
Enaknya nulis tentang apa ya? Tentang TKI saja dulu. Soalnya tadi sempat membaca postingan tentang TKI di tempatnya Kang Adhi, Bang Arif, dan di bataknews. Saya mau menyampaikan pandangan pribadi saja. Dimana sangat mungkin terdapat bayak kekeliruan, namun alangkah baiknya untuk menyampaikan ketimbang membiarkan membusuk tanpa arti.
Tenaga Kerja Indonesia. Tak bosankah kita mendengar kabar kematian dan perlakuan tidak senonoh terhadap mereka para TKI? Di Malaysia, di Arab, dan entah dimana lagi? Siapa yang patut disalahkan? Kalau bicara salah dan benar nampaknya takkan ada habisnya, bukankah segala sesuatu di semesta ini bisa benar tergantung darimana si pengamat melihat….
Kesalahan Individu Para TKI: Kalau secara pandangan saya sepihak, masing masing dari mereka memiliki kesalahan sebagai berikut:
- Tidak membekali diri dengan kemampuan yang mumpuni. Seperti misalnya kemampuan berbahasa negara yang dituju, pengetahuan umum, dan lain sebagainya. Kenapa tidak bisa? Karena berangkatnya secara ilegal, hanya setor duit sama tukang jual manusia sebangsa kemudian berangkat. Hasilnya? Majikan mereka kesal karena sudah bayar (beli?) mahal, manusianya malah mengecewakan. Hingga sang majikanpun menyiksa mereka.
- Mungkin mereka sudah tau bahwasanya mereka akan berangkat lewat jalur ilegal, namun tetap saja memaksa untuk berangkat. Alasannya bekerja diluar negeri bisa menghasilkan banyak duit. Daripada di kampung sendiri hidup tidak karuan, lebih baik merantau ke negeri orang lain.
- Jahil, bengal, nakal, tidak menurut pada majikan. Bisa saja terjadi bukan? Kenapa kita harus memandang para majikannya yang salah? Apa karena para majikan TKI itu bukan rekan sebangsa dan setanah air? Misalnya saya punya pembantu, yang tiap malamnya kelayapan, pulang subuh, kemudian tidak mau ditegur dan diperingatkan. Apa saya sebagai majikannya tidak merasa kesal?
- Suka berdandan tidak sopan, seronok dan mengundang nafsu syahwat. Maka wajar saja kalau para majikan terpancing nafsunya.Akhirnya terjadi perkosaan maupun suka sama suka.
- Memang ganjen. Suka menggoda majikan, sehingga pasangan sang majikan menjadi marah dan cemburu lalu melakukan tindakan kekerasan fisik.
- Polos. Waktu pertama ditawari tidak memeriksa organisasi penjual manusia tersebut, terlalu mudah percaya dengan mulut manis mereka, sehingga akhirnya menyesal saat sudah dijual kepada majikan di luar negeri.
Kesalahan Individu Para Majikan: Sekarang pandangan saya kepada para majikan mereka:
- Berlebihan, menganggap pembantu rumah tangga sebagai budak yang halal untuk diapa apakan. Mungkin ini lebih layak untuk dialamatkan kepada para Arab Arab biadab di negerinya sana.
- Memang suka menyiksa, punya penyakit batin dimana rasa kebengisan dan nafsunya lebih besar, sehingga melampiaskannya kepada para pembantu.
- Majikan wanita yang terlalu cemburu buta dan tolol. Mentang mentang si Inem dadanya sedikit terbuka, pahanya agak tersingkap, malahan di anggap menggoda suaminya sehingga disiksa oleh sang majikan wanita.
- Memang kelebihan syahwat tapi tidak kelebihan uang untuk melacur! Atau memang kelebihan syahwat dan uang, namun masih mau mencari yang gratisan! Maka pembantu dirumah yang jadi sasaran, kan gratis. Mana sudah di bayar pula. Bukankah waktu diimpor dari negara asalnya, para majikan harus membayar untuk mendapatkan mereka.
- Atlit beladiri. Sehingga perlu sansak hidup buat lawan latih tanding.
Kesalahan Para Biadab Penjual Manusia Sebangsa: Nampaknya yang ini tidak perlu didaftarkan. Karena demi uang, mereka tega menipu, dan menjerumuskan manusia manusia yang masih sebangsa. Apa mereka mereka itu tidak pernih berfikir bilamana kejadian terjadi pada saudara sedarah mereka sendiri? Atau mungkin mereka tidak bisa lagi berfikir kecuali memikirkan uang dan kesenangan?
Kesalahan para pasukan KBRI: Nampaknya sudah ada TKI yang pernah melapor dan minta bantuan, namun tidak digubris. Mungkin dikarenakan oleh:
- Mereka memang tidak perduli. Mereka sudah hidup enak sebagai anggota KBRI.
- Mereka memang tidak kompeten! Sehingga saat mau membantu, mereka tidak tau haruis membantu apa dan melakukan apa pada para TKI yang menjadi korban.
- Mereka memang pengecut! Sama pengecutnya atau bahkan lebih pengecut daripada Presiden Indonesia!
- Mereka memang suka melihatnya alias sakit jiwa! Mereka menganggap semua kejadian penyiksaan, perkosaan dan lain sebagainya itu sebagai hiburan dari sesama warga Indonesia saat berada di negeri orang.
Kesalahan Semua Pejabat/Pegawai Pemerintahan yang Terkait: Ini menurut saya adalah pangkal masalahnya:
- Terlalu dungu, tolol, atau tidak kompeten untuk menjabat, sehingga tidak tau telah terjadi penyakluran TKI secara ilegal! Tidak tau solusinya, tapi tidak tau diri dengan masih menjabat.
- Memang niat dan bakat untuk menyelendupkan manusia sebangsanya sendiri. Sehingga merestui para biadab penjual manusia. Karena dengan begitu mereka juga dapat uang.
- Pengecut! Sehingga tidak berani mengambil tindakan tegas. Ataupun memikirkan tindakan meminta pertanggung jawaban.
- Lebih memikirkan perut dan selangkangan masing masing! Sehingga tidak menyiapkan persenjataan dan mempersenjatai diri sendiri maupun bawahan dengan senjata yang memadai, malahan menelan duitnya untuk nafsunya! Maka jika terjadi jalan kekerasan, mereka sudah berfikir untuk mundur atau mengambil jalan damai duluan.
Ada lagi? Mohon para pembaca dan calon komentator menambahkan. Akan sangat saya hargai tindakan berbagi pengalamannya. Terima kasih banyak. Huffhhhh, selesai juga postingan pertama…….
wah, pemikirannya luas banget negh mas rapid!
SALUT!
sebenerna para pejabat itu ga salah ko’, mereka itu malah memberikan kesempatan kepada saudara sebangsana untuk menjadi pahlawan devisa.
huehuehue
bole saia tambahin?
kesalahan kita : tidak bisa menyediakan lapangan kerja bagi mereka-mereka yang sudah putus asa mencari kerja dimana-mana tetapi ga dapet, dan kita sebagai sesama warga negara cuma bisa demo-demo-demo-demo…
termasuk ya saia sendiri…cuma bisa mengomentari mereka-mereka yang cuma pada cuap-cuap doank…
halah.
@Hoek
Thanks mas….
Tambahan diterima dengan baik. Terima kasih banyak atas tambahannya.
banyak yang salah memang, nampaknya kita harus melakukan seperti yang di anjurkan para ahli agama. “Mulailah dari diri sendiri.”
Bisa ga yaaa??????
saya pernah menjadi TKI selama 5 tahun, dan dengan seyakin-yakinnya saya menyatakan bahwa kesalahan-kesalahan TKI yang anda utarakan diatas sangat memojokkan saya …
mungkin memang beberapa atau mungkin sebagian besar TKI melakukan hal tersebut, tapi tolong diingat bahwa didalam sebuah komunitas –apapun itu bentuknya– selalu ada kaum mayoritas dan kaum minoritas … dan yang anda utarakan diatas sangat menyinggung perasaan kaum minoritas seperti saya …
pendapat yg berbau Generalisasi memang sangat sulit untuk dihindari, tapi saya yakin anda dan saya berusaha untuk tidak melakukan itu.
:::::
salam kenal & peace
@Joerig™
Peace!
Maaf, saya tidak bermaksud memojokkan sama sekali. Apalagi menggeneralisasi.
Itu hanya pandangan kepada orang orang yang (mungkin) bertindak salah, karena ketidaktahuan atau ketidak sengajaan kalau menurut saya… bukan menyama ratakan….
Maafkan saya kalau paparan diatas terasa memojokkan.
Akhirnya mampir juga, tapi liat-liat aja dulu nunggu kenyang makan tulang….., biasanya kalo dah kenyang semangat nulis
@Asukowe
Wah, saya bukan pemakan tulang mas..
Iya saya tahu, njenengan makan nasi… apa ada saya nyebut njenengan nakan tulang? kecuali memang dah miskin sekali sampai tulang pun dimamah juga…
@asukowe
Secara aku pernah Jadi TKW tulisan-tulisan di atas ada benarnya, tapi aku lebih menyalahkan dari si tuhan kecil alias uang…
karena itulah sumbernya hihi nyambung ga sih…^_^
yang jelas semuanya ada pada diri kita apapun jalur yang di pilih, pasti ada resikonya, seharusnya sudah siap untuk menanggungnya…